Halaman

Saranghaeyooo.....

Rabu, 04 April 2012

Part IV ( Everything I do it for you )


Seperti biasanya, dosen masuk kelas seenaknya dan keluarpun seenaknya.
“tuh dosen yah, seenaknya aja. Dikira ini kampus punya nenek moyangnya kali ya... udah telat masuk kelas, pulangin kita telat juga, dasar dosen edan !!” celetuk seseorang dibangku belakang tempat aku duduk.
akupun hanya bisa sesekali melirik jam tangan manis pemberian sandy saat sebulan hari jadi kita. 
Beberapa menit kemudian handphone si dosen edan berdering, sesaat kemudian setelah menerima telpon yang kayaknya dari istrinya itu ia meminta maaf pada kami karena tak bisa melanjutkan kuliah hari itu karena anaknya tiba-tiba masuk Rumah Sakit dan akhirnya beberapa suara riuh kegiranganpun terdengar dari sebagian anak-anak yang sedari tadi dibuat bete sama tingkah si dosen yang menandakan bahwa kuliah hari itupun berakhir.

“yippieee, akhirnya...” dalam hatiku senang

Sepulang kuliah aku menyempatkan diri singgah di toko roti kesukaan sandy. Setelah memilih beberapa roti dan kue kesukaannya, aku segera menuju ke kasir dan membayarnya. Kemudian tak lupa untuk membeli beberapa obat yang harus diminumnya karena aku sendiri yakin kalau sandy ga akan minum obat apapun kalau ga disuruh. Setelah merasa cukup lengkap, aku segera menuju ke rumah kekasihku itu.

“siang...”sapaku
“siang sayang, ayo masuk. Tuh si sandy dari tadi katanya mau nunggu dokter kesayangannya baru mau makan..” cerita mamanya sandy setelah melihat kedatanganku.
(sambil tersenyum) “halah, udah besar juga masih manja aja kalau sakit gini. Biar entar vilia suntik aja tante..” kataku sambil bercanda
“hahaha, iya disuntik aja tuh sandynya. Yaudah kamu masuk aja yah, tante tinggal ke rumah omnya sandy gapapa yah?”
“ iya tante, gapapa. Entar sandynya aku jagain deh...”
“ yaudah, makasih ya sayang. Tante pergi dulu ya..” pamit mamanya sandy mengakhiri obrolan kami.
“iya tante, hati-hati dijalan ya...”

Setelah melihat kepergian mamanya, aku kemudian beranjak menuju kamar si anak, kekasihku sandy.

“ehem...”
sandy yang tadinya sedang main laptop diatas ranjangnyapun kaget melihat kehadiranku dikamarnya  lalu segera menutup laptop dan pura-pura kembali berbaring.
“halah, ga usah bohong deh. Aku udah liat dari tadi aing main laptop kok..” 
“hehehe, iya switha. Bosen sih dikamar aja makanya online. Jangan disuntik ya bu dokter...” katanya meledekku
“untung hari ini suntiknya ga dibawa, jadi bersyukur deh aing...” balasku
“hehe, kalo gitu karna hari ini ga bawa suntik jadi obatinnya nemenin aing seharian yah..” katanya sambil setengah memohon manja.
“iyah bos aing...” sambil mengacak-acak rambutnya. “aing, kata mama aing belum makan yah? Kalau gitu makan dulu yah? Abis itu minum obat..! “ perintahku
“ hadeh, gini deh resiko dijaga sama calon dokter. Switha...(dengan nada manja) minum obatnya jangan banyak-banyak yah...” pintanya memohon
“ga. Pokoknya obat yang aku bawa harus diminum semuanya. Atau, dokternya pulang nih?? “
“eh...eh.. iya deh. Aku minum obatnya, switha jangan pulang dulu...”
“yaudah aku ambil makannya dulu yah..”

Setelah menghabiskan setengah piring makanan yang aku ambilkan dan meminum obat yang aku bawakan, kamipun memutuskan untuk bernyanyi-nyayi berdua sambil bercerita banyak hal tentang apa yang terjadi disekitar kita.

“ehm, nyanyi lagu apa yah.. lagu aku aja, aing duluan yang nyanyi. Aku dengar aja dulu “ pintaku manja
“iya deh, ntar gantian switha yang nyanyi lagu aku yah..” (kemudian mulai memainkan piano klasik pemberian ayahnya itu)
“Beautiful girl wherever you are, I knew when I saw you you had opened the door, I knew that I'd love again after a long long while I'd love again............” (melantunkan lagu dari christian bautista yang selalu dinyanyikan untukku)
Aku sangat menikmati saat-saat seperti saat itu, rasanya semua beban lepas dan membuat hatiku begitu tenang berada disampingnya. Sambil terus memainkan piano dan menyanyikan lagu untukku serta tersenyum sesekali melihat wajahku yang kusandarkan ke pundaknya.
“And I´m glad that it's you, Hmm beautiful girl..., nah sekarang gilirang switha nyanyi buat aing.” (saking menikmati lagu yang ia nyanyikan hingga membuatku tak sadar kalau giliranku untuk menyanyikan lagu untuknya)
“ahh, cepet banget.. hihi” (kataku dengan wajah pengen lagi) “yaudah sekarang giliran aku..” lanjutku mengambil alih permainan piano saat itu.
“Look into my eyes  you will see, What you mean to me, Search your heart  search your soul, And when you find me there you’ll search no more........” (melantunkan lagu dari Bryan Adams yang selalu ku nyanyikan untuknya)

Kelihatannya iapun selalu menikmati saat-saat aku menyanyikan lagu ini untuknya walau telah berulang-ulang kali. Seperti biasa, ia selalu merangkulku dan memandang wajahku saat aku menyanyikan lagu ini untuknya. Yah... mungkin hal-hal seperti ini terlalu sering bahkan biasa saja kedengarannya namun kita berdua tak pernah bosan dan selalu ingin melakukan hal-hal seperti ini dikala kita sedang bersama...

Part III (Hujan itu...)



Hari itu hujan turun begitu derasnya, mungkin saat itu dewi hujan sedang putus cinta hingga derasnya hujan begitu menyeramkan tak seperti biasanya, hehe..
Sayangnya hujan turun pada waktu yang kurang tepat, saat kau berada dirumahku.
“wah, hujannya deras banget. Aing gimana pulangnya donk?” (dengan penuh kecemasan)
“halah, bentar juga paling udah reda hujannya” (dengan tenang)

Satu jam berlalu..

“aing, hujannya ga berhenti-berhenti  tuh.. gimana kamu pulangnya? (semakin cemas)
“My switha, ga ada masalah kalau Cuma hujan doank. Kamu tenang aja, aingmu ini ga akan sakit Cuma gara-gara hujan malam ini. Oke switha??” (sambil mengeluarkan jurus paling ampuh, wajah sok imut)
“hmm, ya udah ga usah pake muka sok imut gitu... “ (nyerah gara-gara jurusnya yang satu ini)
“baru nyadar kalau aing imut? ” (sambil berusaha mengalihkan perhatianku untuk melihat kembali wajahnya yang selalu berhasil membuatku luluh begitu saja)
“aing ahh...”(sambil mencoba mengalihkan wajahnya dari perhatianku dengan sedikit malu)
“ciee, malu yah..??? (tiba-tiba mendekapku ke samping tubuhnya)
“apa sih aing, kaya anak abg aja..” (walau sedikit merasa lucu melihat tingkahnya namun aku sangat menikmatinya)
(masih mendekapku) “aing, mending aing balik sekarang deh ntar hujannya malah tambah deras lagi...” kataku ketika tersadar bahwa diluar sedang hujan deras dan kekasihku ini belum pulang ke rumahnya.
“lima menit lagi, switha..” (kali ini ia mendekapku sambil meletakkan kepalanya dipundakku)
“satu..dua..tiga..empat..lima.., oke time is out dan silahkan pulang tuan sandy yang ganteng” (sambil tersenyum lebar)
“ahh, switha curang. Ya udah aku balik aja deh.” (lalu melepas dekapannya dan beranjak pulang)
“ hati-hati yah aing, jangan ngebut-ngebut bawa motornya, sampai dirumah langsung ganti baju terus jangan lupa minum yang hangat-hangat biar ga masuk angin, kalau udah beres semua telpon aku yah ...” (dengan nada manja)
“iyah tuan putriku yang manis....” (sambil  sedikit mengacak-acak rambutku)

Keesokan harinya saat  bangun dari tidurku, lima panggilan tak terjawab dan beberapa sms dari sandy :
# switha, aku udah nyampe rumah, udah ganti pakaian, udah minum teh hangat pula. Kamu lagi ngapain?
# switha kamu udah bobo ya??
# switha aku ga bisa jemput kamu hari ini yah? Aku ga enak badan, mungkin flu. Kamu gapapa kan sendiri?
“astaga, pantesan ga nyadar ada telpon dari aing. BB dari malam di silent kok, halah..” (pikirku lalu segera menelpon sandy)
“halo..”(dengan nada yang tak seperti biasanya)
“halo, aing semalam Bbku silent jadi ga nyadar kalau aing nelpon. Aing gapapa? Aing sakit? (seperti biasa dengan nada cemas)
“aing gapapa switha, aing Cuma perlu istirahat. Switha gapapakan ga dijemput?” (masih saja memikirkanku)
“aing, sekarang itu bukan waktunya mengkhawatirkan aku. Sekarang yang perlu dicemaskan itu aing. Pokoknya sekarang aing istirahat, ntar pulang kuliah aku kerumah.” (kaya mama-mama yang lagi marahin anaknya, haha)
“iya buu, perintahnya siap dilaksanakan. Ibu hati-hati dijalan yah? Yang rajin belajarnya” (sempat-sempatnya ledekin aku)
“iya mas, perintahnya beneran dilaksanakan yah. Ketahuan bohong awas loh...” balasku.
“siap boss, kiss bye donk aing kan lagi sakit..” (dengan nada memelas)
“alasan aja, emang kalau sakit trus kenapa? Entar aku bawain suntik deh biar langsung sembuh” (sambil ketawa dalam hati)
“ahh, gitu yah.. gini nih punya pacar mahasiswi kedokteran, mainnya sama suntikan mulu. Curang ahh...”
“hahaha, siapa suruh mau sama mahasiswi kedokteran?” (ledekku)
“abis mahasiswinya manis sih...” (mulai rayuan maut)
“aduh, udah deh mulai kan... ingat lagi sakit, istirahat sana “ (perintahku)
“hehe, iya my switha...”

Setelah mengakhiri perbincangan singkat kita, aku menyempatkan diri untuk berdoa pagi. Rasanya aku harus bersyukur karena Tuhan begitu baik dalam tiap detik waktu dihidupku, termasuk menganugerahkan kau untuk hidupku saat ini. Setelah itu aku tersenyum dan mulai menjalankan aktivitas pertama dihariku saat itu...

Selasa, 03 April 2012

Part II ( Kamu, jalanku..)


Sejak saat itu aku mulai memberanikan diri untuk move on tanpamu walaupun rasanya seperti sedang memanjat gunung tertinggi di dunia. Seperti biasa, aku memulainya dengan tidak menjalin komunikasi lagi denganmu. Saat memikirkan hal itu rasanya 2 kali lipat lebih berat dari berat badanku saat ini. Yah..hal itu memang tak pernah mudah sekalipun baru terpikirkan dan nyatanya memang lebih berat dari yang terpikirkan.
Apa kamu tahu bagaimana beratnya perasaanku menahan keinginan untuk tidak menghubungimu walau hanya sekedar say halo atau menyanyakan kabarmu saat itu? Sangat BERAT !!

Rasanya tidurku tak nyenyak, yang ada dipikiranku hanyalah apakah kamu benar-benar akan melupakanku dika? Apa kita akan benar-benar berakhir seperti ini? Apa kamu benar-benar ga pernah menyayangiku dika? Atau memang aku yang terlalu banyak berharap padamu? Pada harapan kosong yang aku sendiri tak ingin merasakannya dulu? Apa memang begitu?

Tak terasa sebulan berlalu tanpa kabarmu dan aku terus memaksakan diri untuk membiasakan diri tanpa kabarmu. Setelah saat-saat itu aku belajar bahwa ketika aku mulai berhenti mengikuti langkahmu, itulah saatnya Tuhan ingin aku berjalan dijalanku sendiri. Mungkin hal paling tersulit untuk seorang anak bayi adalah membalikan tubuhnya ketika ia terjebak oleh ulahnya sendiri, dan hal itupun dirasakan oleh ku saat harus berjalan berbalik arah menuju jalanku sendiri.

Saat itu aku bertemu dengan seseorang dijalan yang sama dengan arah jalanku. Yah, dialah kak sandy. Awalnya dia seperti bayangan dika yang mengikutiku ke arah jalanku, namun ternyata aku salah. Dia bukan dika atau bayangan dika yang tak sengaja berada searah dengan jalanku, tapi dialah arah tujuanku yang benar.

S : (memelukku) aku sayang kamu
V : kk? kenapa sih? (rasanya seluruh aliran darahku berhenti mengalir saat itu)
S : (menatapku dalam) aku sayang kamu” dengan nada sedikit lambat
V : (tak sadar, mataku berkaca saat menatapnya lalu tiba-tiba kembali memeluknya) ini jawabanku, Kaka bisa rasain kan?

Malam itu rasanya pelukanmu menjadi begitu hangat hingga aku sendiri tak menyadaribahwa terlalu lama kita ada ditempat itu dengan hanya beberapa kalimat yang terlalu banyak memberi makna indah bagi awal hubungan kita. Dalam hati aku sempat berdoa saat dipelukmu, “sekarang jangan biarkan aku jalan pada arah yang salah yah? Aku ga mau tersesat untuk kesekian kalinya, hanya satu yang aku minta jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu dari tanganku yah kak...
aku juga sayang kaka....