Sejak saat itu aku mulai memberanikan diri untuk move on
tanpamu walaupun rasanya seperti sedang memanjat gunung tertinggi di dunia.
Seperti biasa, aku memulainya dengan tidak menjalin komunikasi lagi denganmu. Saat
memikirkan hal itu rasanya 2 kali lipat lebih berat dari berat badanku saat
ini. Yah..hal itu memang tak pernah mudah sekalipun baru terpikirkan dan
nyatanya memang lebih berat dari yang terpikirkan.
Apa kamu tahu bagaimana beratnya perasaanku menahan
keinginan untuk tidak menghubungimu walau hanya sekedar say halo atau
menyanyakan kabarmu saat itu? Sangat BERAT !!
Rasanya tidurku tak nyenyak, yang ada dipikiranku hanyalah
apakah kamu benar-benar akan melupakanku dika? Apa kita akan benar-benar berakhir
seperti ini? Apa kamu benar-benar ga pernah menyayangiku dika? Atau memang aku
yang terlalu banyak berharap padamu? Pada harapan kosong yang aku sendiri tak
ingin merasakannya dulu? Apa memang begitu?
Tak terasa sebulan berlalu tanpa kabarmu dan aku terus
memaksakan diri untuk membiasakan diri tanpa kabarmu. Setelah saat-saat itu aku
belajar bahwa ketika aku mulai berhenti mengikuti langkahmu, itulah saatnya
Tuhan ingin aku berjalan dijalanku sendiri. Mungkin hal paling tersulit untuk
seorang anak bayi adalah membalikan tubuhnya ketika ia terjebak oleh ulahnya
sendiri, dan hal itupun dirasakan oleh ku saat harus berjalan berbalik arah
menuju jalanku sendiri.
Saat itu aku bertemu dengan seseorang dijalan yang sama
dengan arah jalanku. Yah, dialah kak sandy. Awalnya dia seperti bayangan dika
yang mengikutiku ke arah jalanku, namun ternyata aku salah. Dia bukan dika atau
bayangan dika yang tak sengaja berada searah dengan jalanku, tapi dialah arah
tujuanku yang benar.
S : (memelukku) aku sayang kamu
V : kk? kenapa sih? (rasanya seluruh aliran darahku berhenti
mengalir saat itu)
S : (menatapku dalam) aku sayang kamu” dengan nada sedikit
lambat
V : (tak sadar, mataku berkaca saat menatapnya lalu
tiba-tiba kembali memeluknya) ini jawabanku, Kaka bisa rasain kan?
Malam itu rasanya pelukanmu menjadi begitu hangat hingga aku
sendiri tak menyadaribahwa terlalu lama kita ada ditempat itu dengan hanya
beberapa kalimat yang terlalu banyak memberi makna indah bagi awal hubungan
kita. Dalam hati aku sempat berdoa saat dipelukmu, “sekarang jangan biarkan aku
jalan pada arah yang salah yah? Aku ga mau tersesat untuk
kesekian kalinya, hanya satu yang aku minta jangan pernah lepaskan genggaman
tanganmu dari tanganku yah kak...
aku juga sayang kaka....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar