Halaman

Saranghaeyooo.....

Rabu, 04 April 2012

Part III (Hujan itu...)



Hari itu hujan turun begitu derasnya, mungkin saat itu dewi hujan sedang putus cinta hingga derasnya hujan begitu menyeramkan tak seperti biasanya, hehe..
Sayangnya hujan turun pada waktu yang kurang tepat, saat kau berada dirumahku.
“wah, hujannya deras banget. Aing gimana pulangnya donk?” (dengan penuh kecemasan)
“halah, bentar juga paling udah reda hujannya” (dengan tenang)

Satu jam berlalu..

“aing, hujannya ga berhenti-berhenti  tuh.. gimana kamu pulangnya? (semakin cemas)
“My switha, ga ada masalah kalau Cuma hujan doank. Kamu tenang aja, aingmu ini ga akan sakit Cuma gara-gara hujan malam ini. Oke switha??” (sambil mengeluarkan jurus paling ampuh, wajah sok imut)
“hmm, ya udah ga usah pake muka sok imut gitu... “ (nyerah gara-gara jurusnya yang satu ini)
“baru nyadar kalau aing imut? ” (sambil berusaha mengalihkan perhatianku untuk melihat kembali wajahnya yang selalu berhasil membuatku luluh begitu saja)
“aing ahh...”(sambil mencoba mengalihkan wajahnya dari perhatianku dengan sedikit malu)
“ciee, malu yah..??? (tiba-tiba mendekapku ke samping tubuhnya)
“apa sih aing, kaya anak abg aja..” (walau sedikit merasa lucu melihat tingkahnya namun aku sangat menikmatinya)
(masih mendekapku) “aing, mending aing balik sekarang deh ntar hujannya malah tambah deras lagi...” kataku ketika tersadar bahwa diluar sedang hujan deras dan kekasihku ini belum pulang ke rumahnya.
“lima menit lagi, switha..” (kali ini ia mendekapku sambil meletakkan kepalanya dipundakku)
“satu..dua..tiga..empat..lima.., oke time is out dan silahkan pulang tuan sandy yang ganteng” (sambil tersenyum lebar)
“ahh, switha curang. Ya udah aku balik aja deh.” (lalu melepas dekapannya dan beranjak pulang)
“ hati-hati yah aing, jangan ngebut-ngebut bawa motornya, sampai dirumah langsung ganti baju terus jangan lupa minum yang hangat-hangat biar ga masuk angin, kalau udah beres semua telpon aku yah ...” (dengan nada manja)
“iyah tuan putriku yang manis....” (sambil  sedikit mengacak-acak rambutku)

Keesokan harinya saat  bangun dari tidurku, lima panggilan tak terjawab dan beberapa sms dari sandy :
# switha, aku udah nyampe rumah, udah ganti pakaian, udah minum teh hangat pula. Kamu lagi ngapain?
# switha kamu udah bobo ya??
# switha aku ga bisa jemput kamu hari ini yah? Aku ga enak badan, mungkin flu. Kamu gapapa kan sendiri?
“astaga, pantesan ga nyadar ada telpon dari aing. BB dari malam di silent kok, halah..” (pikirku lalu segera menelpon sandy)
“halo..”(dengan nada yang tak seperti biasanya)
“halo, aing semalam Bbku silent jadi ga nyadar kalau aing nelpon. Aing gapapa? Aing sakit? (seperti biasa dengan nada cemas)
“aing gapapa switha, aing Cuma perlu istirahat. Switha gapapakan ga dijemput?” (masih saja memikirkanku)
“aing, sekarang itu bukan waktunya mengkhawatirkan aku. Sekarang yang perlu dicemaskan itu aing. Pokoknya sekarang aing istirahat, ntar pulang kuliah aku kerumah.” (kaya mama-mama yang lagi marahin anaknya, haha)
“iya buu, perintahnya siap dilaksanakan. Ibu hati-hati dijalan yah? Yang rajin belajarnya” (sempat-sempatnya ledekin aku)
“iya mas, perintahnya beneran dilaksanakan yah. Ketahuan bohong awas loh...” balasku.
“siap boss, kiss bye donk aing kan lagi sakit..” (dengan nada memelas)
“alasan aja, emang kalau sakit trus kenapa? Entar aku bawain suntik deh biar langsung sembuh” (sambil ketawa dalam hati)
“ahh, gitu yah.. gini nih punya pacar mahasiswi kedokteran, mainnya sama suntikan mulu. Curang ahh...”
“hahaha, siapa suruh mau sama mahasiswi kedokteran?” (ledekku)
“abis mahasiswinya manis sih...” (mulai rayuan maut)
“aduh, udah deh mulai kan... ingat lagi sakit, istirahat sana “ (perintahku)
“hehe, iya my switha...”

Setelah mengakhiri perbincangan singkat kita, aku menyempatkan diri untuk berdoa pagi. Rasanya aku harus bersyukur karena Tuhan begitu baik dalam tiap detik waktu dihidupku, termasuk menganugerahkan kau untuk hidupku saat ini. Setelah itu aku tersenyum dan mulai menjalankan aktivitas pertama dihariku saat itu...

2 komentar: